Meja365 Agen Judi Poker, DominoQQ, Bandarq Dan AduBalak Online Casino Online Terbaik | Agen Judi online | Judi Live Casino Poker Online, Agen Domino Online, Bandar q, Sakong - ITUBANDAR

Cerita Sex Vera kakak iparku

Cerita Sex Vera kakak iparku
Cerita Sex Vera kakak iparku

 

Cerita Sex Vera kakak iparku – Genap satu tahun pernikahan saya dengan Tya, kami diberi rezeki Tuhan, istri saya mengandung anak pertama kami. Kegembiraan saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena saya akan menjadi seorang ayah. Tya makin mesra dengan saya setelah perutnya makin membuncit mengendong seorang anak yang bakal menjadi cahaya hidup kami. Setiap kali sebelum pergi kerja, sudah menjadi rutinitas harian kami untuk bercumbuan di depan pintu. Tidak berasa malu walaupun ibu mertua saya tinggal bersama kami. Hanya senyum manis yang terukir diwajah ibu mertua saya melihat kebahagiaan kami.
Nonton Film Klik Disini
Saya mengenal Tya waktu kami masih sekolah. Saya lebih dulu kenal dengan kakaknya, Vera, di sebuah perkemahan. Namun saya tidak berniat untuk menjadi lebih dari sekedar teman dengan Vera. Sehingga Vera memperkenalkan saya kepada adiknya yang kini menjadi istri saya yang.
Lima bulan berlalu…
“Asalamualaikum” terdengar suara lembut dari luar pintu.
Ibu mertua saya lantas menyahut dan membuka pintu.
“Eh Vera, kenapa nggak tepon dulu kalau mau datang” kata ibu mertua saya.
Vera pun melangkah masuk sambil menggandeng Akbar, anaknya yang berusia dua tahun, hasil pernikahannya dengan Burhan tiga tahun lalu. Vera mengatakan keinginannya untuk tinggal bersama ibunya untuk sementara waktu karena Burhan sedang keluar negeri untuk urusan pekerjaan.
“Udah lama dia perginya?” tanya ibu mertua saya.
“Udah lama Mah, Vera tinggal tinggal di rumah Cuma berdua, takut juga rasanya. Boleh kan Vera tinggal disini sampai Mas Burhan pulang!” kata Vera
“Eh itu mobil siapa?” tanya saya kepada istri saya saat menghentikan mobil di depan rumah.
“Punya Mbak Vera, tadi dia telpon, katanya mau tinggal sementara disini, suaminya lagi ke luar negeri urusan kerja” jawab Tya.
Kami pun melangkah masuk setelah kembali dari rumah sakit untuk periksa. Sampai didalam rumah Vera menyambut Tya. Mereka memang sangat dekat. Saya hanya menyunggingkan senyum melihat Vera dan anaknya. Bagus sekali tubuh Vera yang saya kenal dulu tidak berubah walaupun sudah melahirkan seorang anak. Lekukan pinggulnya yang aduhai selalu menarik perhatian walaupun dadanya agak kurang mantap.
Selesai makan malam, Tya berkata dia mau ke rumah Anisa, tetangga kami. Ibu mertua saya pun menemaninya. Saya masih menghadap komputer menyiapkan berkas untuk pembanunan pabrik yang baru. Vera yang kelelahan duduk bersama anaknya menonton televisi yang tidak jauh dari meja komputer saya. Vera hanya diam seribu bahasa sambil sesekali saya melihat kerlingan matanya kepada saya. namun saya tidak mempedulikannya karena fokus ke layar komputer.
“Akbar main sebentar ya, mama mau mandi dulu” kata Vera kepada anaknya.
Akbar seakan paham. lalu Vera bangun meninggalkan Akbar sendirian sambil meminta saya melihat gerak gerik Akbar. tiba-tiba jantung saya berdegup kencang, nafas saya tidak karuan, dalam hati saya berpikir… Sendirian dirumah, bersama kakak ipar saya yang mengiurkan, lagipula sudah lama saya tidak bercinta dengan Tya kerana dia sedang mengandung, dia mau pergi mandi, aaarghhh… nafsu jantan saya kian bergairah. ah, mengintip sebentar boleh lah. Lalu rontok juga iman saya. Saya pun bangkit dari kursi. Terlihat lampu kamar mandi menyala dan bunyi air keran membuat saya berdebar. Akbar saya tinggalkan sendirian.
Sampai di pintu kamar mandi, saya mengambil kursi meja rias Tya lalu memanjatnya untuk mencapai celah diatas pintu. Usaha saya membuahkan hasil.Terlihat tubuh putih dan mulus itu basah disirami air. Vera menggosok tubuhnya dengan sabun. Melihat pemandangan itu penis saya menegang, mengeras. Setelah sekian lama tidak memuncratkan cairan kenikmatan, sudah pasti isinya masih penuh. Darah saya mengalir deras. Sesekali Vera menoleh kearah pintu, seolah dia melihat kehadiran saya disitu. Saya menghindari tatapan matanya. Setelah selesai mandi, Vera membungkus tubuhnya dengan handuk. Saya buru-buru turun lalu mengembalikkan kursi ke tempat asalnya lalu sembunyi.
Pintu tandas terbuka perlahan. Vera keluar menuju kekamarnya. Dia mengintip kebawah dari celah tangga melihat keadaan anaknya, lalu dia menuju ke kamarnya. Tidak terdengar suara pintu dikunci. darah saya bergejolak lagi. aaarghh… nafsu semakin melonjak. Lalu saya melangkah menuju kekamar Vera. Saya buka sedikit demi sedikit mengintip lagi, tiba-tiba pintu ditarik kasar.
“Rafi, ngapain kamu!” pekik Vera.
Saya kaget, dan merasa malu.
“Eh gak ngapa-ngapain kok Vera” jawabku.
“Terus ngapain ngendap-ngendap di depan pintu?” katanya dengan nada tinggi.
Mata Vera keatas kebawah melihat saya, sesekali berhenti dibagian bawah, entah apa yang diperhatikannya. Kami membisu lama.
“Kamu tadi ngintip Vera mandi ya?”
“emm, maaf Vera, aku gak tau kenapa aku jadi sampai kayak gini, udah lama aku gak dapat jatah tiya. Jadi cuma mau cuci mata aja” kata saya untuk menenangkan Vera.
Wanita ini sudah sangat saya kenal, jadi saya tidak ingin berbohong. Saya berkata jujur dan berharap Vera memaafkan perbuatan saya. Pikirku dalam hati.
“masuk sini, duduk dulu.. Emang udah berapa lama gak ‘berbuat’ sama Tya?” Vera menawarkan untuk masuk kedalam kamarnya, dia duduk besebelahan dengan saya.
“Ya udah sejak dia hamil. Dia gak mau, takut kalau kenapa-kenapa. Dokter juga menyuruh pelan-pelan soalnya rahim dia lemah.” jawabku beseloroh.
Vera tertawa mendengar cerita saya, lalu sedikit memamerkan senyuman manisnya dan lesung pipit di pipinya.
“Aku juga udah lama gak begituan, Mas Burhan kan anak tunggal, setelah Akbar lahir, katanya, cukup dia saja”
Vera seolah membuka celah pertahanannya. sejenak penis saya mengeras lagi. berbicara dengan seorang wanita cantik dalam keadaan hanya mengenakan handuk, dan saya hanya memakai kaos dan celana pendek. Cukup lama kami mengobrol, agaknya Vera lupa dia meninggalkan anaknya di bawah. ah, udah ada peluang nih, pikirku.
Berhati-hati saya merangkai kata-kata, supaya tidak lari dari maksud sebenarnya. Vera dan saya sangat dekat sehingga saya berani membicarakan hal-hal yang berbau sex dengannya. Tubuh mulusnys kini sudah kering.
“terus, selama ini kamu kalau lagi pengen gimana? gak mau coba sama teman lamamu ini? Adik ipar lagi.” Tanya saya berani.
Vera terkejut dengan perkataan saya sambil tersenyum. Saya sudah menduga dia pasti menolak. Tapi lembut sekali tolakannya, mungkin dia hanya malu. Masih ada peluang, pikirku.
Tanpa menunggu lama, tangan saya merayap ke telinganya sambil menyeka rambut basahnya. Vera mengelak-elak manja. Lalu bibir saya mulai hinggap di bibir Vera. Awalnya tidak ada balasan, namun lama-lama akhirnya terasa tangannya mulai memaut leher saya, bibirnya juga mulai liar. Lidah betemu lidah, nafas berganti nafas, handuk yang membungkus tubuhnya kini saya lepaskan. Sudah lama saya membayangkan saat seperti ini bersama Vera. Karena pinggulnya yang menggiurkan tiap lelaki tidak terdapat pada Tya, pinggul kurang berisi. lagipula Tya jauh lebih kurus berbanding Vera yang agak montok tapi tidak gemuk. sungguh sempurna tubuh mereka ini, menurun dari ibu mereka, ibu mertua saya.
“ehhmmm, cukup Fi, nanti kalau Tya sama Mamah balik. Akbar juga dibawah sendirian tu… hmmm… ssshh…” rengek manja Vera meminta saya menghentikan perbuatan saya.
Tidak boleh… kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, nafsu saya yang bergejolak belum selesai terlampiaskan.
“Sebentar aja Vera, please… Akbar gak apa-apa tu tadi” balas saya semakin mempererat pelukan saya sambil tangan saya merayap ke selangkangannya. Bulu-bulunya tercukur rapi, sungguh mengasyikkan saya bisa mendaratkan jari saya kedalam liang vagina itu.
“Hhekk… ehmmmm… ssshh…” desahan Vera menanhan kenikmatan permainan jari saya.
“Vera, puasin aku sekali ini aja, ya…” pinta saya sambil mengangkat Vera ke kasur.
Vera membetulkan rambutnya. sesampai di kasur, saya baringkan Vera di tempat tidur Tya. Tidak saya pedulikan lagi istri saya yang setia itu. Lama juga dia ke rumah Anisa. Tapi bagus lah, saya bisa mendapatkan kesempatan ini, pikirku.
“Fi, ehkk… hmmm… enak…” desah Vera lagi.
Aku tersenyum sambil menciumi leher Vera. Vera pun tersenyum. Saya melebarkan kangkangan Vera lalu menyusup masuk. celana pendek sudah saysa lepas.
“Buka baju kamu dong Fi” pinta Vera.
Tubuh tegap saya terpampang didepan kakak ipar saya. Penis saya yang tegang semakin rapat dengan lubang vagina Vera.
“Vera… aku masukin ya sayang” pinta saya sambil mengecup dahi Vera.
Vera hanya tersenyum, kemudian mengernyit akibat tusukan batang nikmat saya kedalam lubang cintanya.
“Eeehkkk… aaahhh… ehmm… pelan-pelan Fi… aahhh…” kata Vera merespon sodokan ganas saya.
“Gak apa-apa Vera, keburu pada balik ntar… ahh….” balasku spontan..
Lima menit dalam posisi yang sama, saya mulai beralih posisi, saya meminta Vera menungging. Kemudian saya lanjutkan menyetubuhi kakak ipar saya itu dengan posisi doggy. Saya semakin gencar menyetubuhi kakak ipar saya. Vera seakan menikmatinya. Lalu saya ambil sex toys yang saya beli melalui internet. Sengaja saya membelinya untuk saya gunakan ke Tya. Saya menusukkan dildo itu kedalam anus Vera.
“Aaahhhhhhhh… ssssssssshhh… sakit Fi… jangan…” saya tidak mempedulikan kata-kata Vera.
Vera meronta menolak tangan saya yang asyik menyodok duburnya dengan dildo ditambah lagi dengan haujaman penis saya. Tiba-tiba Vera sengaja menyungkur, tubuh mulusnya mengejang, basah diatas kasur, Vera klimaks.
“Aahhhh… udah Fi, aku udah capek. Aku gak nyangka kamu bisa bikin aku puas… suamiku aja gak bisa bikin aku sepuas ini” puji Vera.
“Vera, aku belum keluar nih… sebentar lagi ya…”
“Mau dikeluarin didalem? Gila kamu, gimana kalau aku hamil nanti… jangan ah” jawab Vera
“Janji deh, gak keluar didalem”
“Udah ah Fi, udah pada mau balik tuh… aku juga udah capek” rayu Vera.
Saya terkejut, tiba-tiba saya lihat Akbar sudah berada didepan pintu kamar. Dia memandang mamanya sedang di kerjain oleh pamannya. Tapi saya tidak mempedulikannya. Saya mencium manis bibir Vera, menyambung apa yang belum selesai. Saya memaksa walaupun Vera coba menolak. Saya mengasari kakak ipar saya sendiri. Akbar mulai menangis.
“Fiii, anak aku nangis tuuu… aahhhhh… ahhhhh… ehhkkk…. ssshh…”
“sebentar lagi Vera… aahhh… Akbar biar nunggu dulu”
“Cepet Fiii, ehmmm… aahhhh…”
“Vera… aaahh… aku sampai…”
Cairan nikmat itu akhirnya saya keluarkan didalam liang kenikmatan Vera… kami berdua puas. Vera menepuk badan saya
“Tadi katanya mau dikeluarin diluar… hmmm… ya udah lah… gak apa-apa” kata Vera
Terdengar suara pintu pagar dibuka. Sepertinya istri saya dan ibu mertua saya sudah pulang. Lalu saya pun berpakaian lalu keluar kamar dan menyambut istri saya.
Esoknya, saya melihat Vera di dapur sambil menggendong Akbar, kami hanya berbalas senyuman. Tya datang memberi kecupan sayang seorang isteri dibibir saya. Vera menggigit bibir melihat kami berciuman mesra.

Nonton Film Klik Disini

Cerita sex 2018, cerita sex terbaru, cerita sex terupdate, cerita sex, cerita seks 2018, cerita seks terupdate, cerita seks terbaru, cerita seks, cerita dewasa 2018, cerita dewasa terupdate, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2018, cerita mesum terupdate, cerita mesum terbaru, cerita mesum.

Tags: bacaan seks blog cerita seks blowjob cerita 17 tahun cerita bokep cerita dewasa cerita hot cerita hot artis cerita kenikmatan cerita ngentot cerita plus cerita porno artis cerita seks artis cerita seks dewasa cerita seks tante

author
Author: 

    Related Post "Cerita Sex Vera kakak iparku"

    Malu Malu Enak Melihat Tanteku Sendiri
      Cerita Dewasa - Saat aku lulus
    Cerita Sex Pesta Sex Bersama Anakku dan Teman-Temannya
    Cerita Sex Pesta Sex Bersama Anakku dan
    Cerita Sex Rida Pacarku Berjilbab
    Cerita Sex Rida Pacarku Berjilbab   Cerita
    Cerita Sex Perkenalan Dengan Silvy adik Ponakan
    Cerita Sex Perkenalan Dengan Silvy adik Ponakan

    Leave a reply "Cerita Sex Vera kakak iparku"